Wednesday, October 3, 2018

PERILAKU MENYIMPANG DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI


“PERILAKU MENYIMPANG DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI”


1.      PENDAHULUAN

Perilaku manusia dapat diartikan sebagai ciri-ciri atau karakteristik yang dapat dibedakan dengan manusia lainnya.  Sedangkan perilaku itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk respon dengan stimulus yang timbul dan manusia merupakan gabungan dari jiwa dan raga yang memiliki sifat-sifat tertentu dan unik. (Tirta Raharja U. dkk …2000) pengantar pendidikan ; Jakarta : Rieneka Cipta. Bagian Hakekat manusia dan pengembangan). Menurut Beerlins, 1951:43 manusia adalah makhluk yang serba terhubung dengan masyarakat, lingkungan dirinya sendiri dan tuhan.

Pada dasarnya perilaku manusia dapat terbentuk akibat adanya stimulus yang diberikan, stimulus yang datang akan direspon dalam bentuk perilaku yang ditunjukan, perilaku itu sendiri dapat berbentuk positif atau negatif tergantung pada stimulus yang datang. Perilaku menyimpang diterjemakan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang mengacu pada norma-norma dan hokum-hukum yang ada di dalam masyarakat. Perilaku menyimpang terjadi karena seseorang telah mengabaikan norma-norma, aturan atau tidak mematuhi patokan baku, berupa produk hokum baik yang tersirat maupun tersurat dan berlaku ditangah masyarakat.
            
            Dalam makalah ini akan dibahas mengenai perilaku menyimpang dalam pandangan psikologi, teori penyimpangan, ciri-ciri perilaku menyimpang, sifat-sifat penyimpangan, dan jenis-jenis perilaku menyimpang.



 BAB II
PEMBAHASAN

            Secara garis besar terdapat faktor yang menjadi penyebab penyimpangan prilaku, diantaranya faktor biologis dan faktor psikologi. Kondisi psikologis dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan prilaku. Kondisi-kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga, masyarakat atau faktor yang bersumber dari individu sendiri seperti stress. Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang yang bersumber dari lingkungan keluarga seperti perceraian orang tua, ketidak hadiran orang tua dan konflik orang tua.

Menurut Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

Teori-Teori Penyimpangan
     1.Teori Labeling

Menurut Edwin M. Lemert, seseorang menjadi orang yang menyimpang karena proses labelling berupa julukan, cap dan merk yang ditujukan oleh masyarakat ataupun lingkungan sosialnya.

 2. Teori Hubungan Diferensiasi


Menurut Edwin H. Sutherland, agar terjadi penyimpangan seseorang harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana caranya menjadi seorang yang menyimpang. Pengajaran ini terjadi akibat interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain yang berperilaku menyimpang
         
       3.Teori Anomi Robert K Merton

Robert K. Merton menganggap anomi disebabkan adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara yang diapakai untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Merton terdapat lima cara pencapaian tujuan budaya, yaitu: Konformitas, Inovasi, Ritualisme, Retreatisme, dan Pemberontakan.


Ciri-ciri Perilaku Menyimpang (Paul B Horton)
     a.    Penyimpangan harus dapat didefinisikan, artinya penilaian menyimpang tidaknya suatu perilaku  harus berdasar kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.
      b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak.
    c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak, artinya perbedaannya ditentukan oleh frekuensi dan kadar penyimpangan.
    d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal, artinya budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan.
   e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka.
     f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif, artinya perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang
      a.     Penyalahgunaan Narkoba
      b.    Penyimpangan seksual (Perzinahan yaitu hubungan seksual di luar nikah; Lesbian yaitu hubungan seksual yang dilakukan sesama wanita; Homoseksual adalah hubungan seksual yang dilakukan sesama laki-laki; Pedophilia adalah memuaskan kenginan seksual dengan menggunakan kontak seksual dengan anak-anak; Gerontophilia adalah memuaskan keinginan seksual dengan orang tua seperti kakek dan nenek; Kumpul kebo adalah hidup seperti suami istri tanpa nikah).  
      c.       Alkoholisme
      d.      Kenakalan Remaja



BAB III
KESIMPULAN

            Kondisi psikologis dapat menyebabkan seseorang ber perilaku menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga, masyarakat atau faktor yang bersumber dari individu sendiri seperti stress. Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang yang bersumber dari lingkungan keluarga seperti perceraian orang tua, ketidak hadiran orang tua dan konflik orang tua. Terdapat beberapa ciri perilaku menyimpang, diantaranya: Penyimpangan harus dapat didefinisikan; Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak; Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlakd; Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya idea; Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan; Penyimpangan sosial bersifat adaptif.


DAFTAR PUSTAKA

Ramlan, Toupik dkk. 2007. Sosiologi 1 Kajian Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Yudistira
Mantiri, Vive Vike. 2014. Perilaku Menyimpang di Kalangan Remaja di Kelurahan Pondang, Kecamatan Amurang Timur Kabupaten Minahasa Selatan. http://media.neliti.com/media/publications/90282-ID-perilaku-menyimpang-di-kalangan-remaja.pdf. Volume III. No.1. Halaman 1-13
Onika, Hefri Asra. Perilaku Menyimpang. http://infosos.wordpress.com/kelas-x/perilaku-menyimpang/. 25 Oktober 20017
Iqba, Muh. http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/lentera_pendidikan/article/download/530/521. Lentera pendidikan. Volum 17 nosssmor 2. Halaman 229-242

No comments:

Post a Comment

MINI RISET (MR) PRAGMATIK

  BAB I PENDAHULUAN A.                 Latar Belakang   Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial, maka tindak tutur merupakan g...